Mahasiswa Universitas Balikpapan Belajar Tata Kelola APBD Langsung di DPRD
POSKOTAKALTIMNEWS, BALIKPAPAN: Sejumlah mahasiswa Universitas Balikpapan (Uniba) mengunjungi DPRD Kota Balikpapan untuk mempelajari secara langsung proses penyusunan dan pengawasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Kunjungan tersebut
diterima langsung Wakil Ketua DPRD Kota Balikpapan Budiono dan Yono Suherman di
ruang rapat Fraksi DPRD Balikpapan, Senin (5/10/2026).
Wakil Ketua DPRD
Balikpapan Budiono mengatakan, kunjungan mahasiswa tersebut menjadi kesempatan
bagi mereka untuk memahami tata kelola APBD secara lebih konkret, mulai dari
tahapan perencanaan hingga pengawasan anggaran.
“Yang mereka tanyakan
terkait tata kelola APBD Kota Balikpapan. Mereka juga belajar bagaimana proses
penyusunan APBD dari awal, mulai dari Musrenbang, reses, penyusunan RKA,
KUA-PPAS, anggaran murni hingga anggaran perubahan,” kata Budiono.
Menurutnya, proses
penyusunan APBD pada prinsipnya terbuka untuk publik. Masyarakat maupun
berbagai pihak dapat memberikan masukan dalam proses perencanaan dan penyusunan
anggaran daerah.
“APBD kita secara anggaran
terbuka untuk publik dan dapat diakses. Sebelum penyusunan APBD pun tentu ada
ruang untuk mendapatkan masukan dari berbagai pihak,” jelasnya.
Budiono menambahkan, DPRD
memiliki tiga fungsi utama, yakni fungsi anggaran, legislasi, dan pengawasan.
“Selain tugas utama kita
menyusun dan menyepakati anggaran, DPRD juga memiliki tugas membuat regulasi
atau perda serta mengawasi pelaksanaan APBD,” ujarnya.
Ia menilai, pemahaman
mengenai tata kelola anggaran daerah penting bagi mahasiswa, terutama mereka
yang nantinya akan terlibat dalam berbagai bidang pemerintahan maupun
pembangunan.
Sementara itu, Dosen
Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Balikpapan, Dr.
Yudea F. Anai, mengatakan kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya
memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa.
“Kami bersama mahasiswa
berkunjung ke DPRD untuk mengetahui bagaimana fungsi DPRD Balikpapan, khususnya
dalam pengawasan anggaran. Selain itu, mahasiswa juga ingin belajar secara
praktik agar mendapatkan pengalaman langsung,” kata Yudea.
Menurutnya, pembelajaran
mengenai akuntansi sektor publik tidak cukup hanya diberikan melalui teori di
ruang kelas. Mahasiswa perlu melihat secara langsung bagaimana proses
pengelolaan anggaran publik berlangsung.
“Kami mengajarkan teori
tentang akuntansi sektor publik. Harapannya, mereka bisa melihat langsung
praktiknya di lapangan seperti saat ini,” ujarnya.
Yudea menilai mahasiswa
merupakan investasi masa depan sehingga pembelajaran perlu dipadukan antara
teori dan pengalaman praktis.
“Mereka ini investasi masa
depan. Jadi, bukan hanya memahami teori, tetapi juga harus mendapatkan
pengalaman praktik di lapangan,” pungkasnya.(mid)